Sabtu, 22 Oktober 2022

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN RISIKO KETIDAKSEIMBANGAN ELEKTROLIT

 0037 Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit.

DEFINISI

Berisiko mengalami perubahan kadar serum elektrolit.

FAKTOR RESIKO

  • Ketidakseimbangan cairan (mis. Dehidrasi dan intoksikasi air)
  • Kelebihan volume cairan
  • Gangguan mekanisme regulasi (mis. Diabetes)
  • Efek samping prosedur (mis. Pembedahan)
  • Diare
  • Muntah
  • Disfungsi ginjal
  • Disfungsi regulasi endokrin

OUTCOME

  • Keseimbangan Elektrolit  meningkat            L.03021

INTERVENSI KEPERAWATAN

A. PEMANTAUAN ELEKTROLIT (I.03122)

  1. Observasi
    • Identifkasi kemungkinan penyebab ketidakseimbangan elektrolit
    • Monitor kadar eletrolit serum
    • Monitor mual, muntah dan diare
    • Monitor kehilangan cairan, jika perlu
    • Monitor tanda dan gejala hypokalemia (mis. Kelemahan otot, interval QT memanjang, gelombang T datar atau terbalik, depresi segmen ST, gelombang U, kelelahan, parestesia, penurunan refleks, anoreksia, konstipasi, motilitas usus menurun, pusing, depresi pernapasan)
    • Monitor tanda dan gejala hyperkalemia (mis. Peka rangsang, gelisah, mual, munta, takikardia mengarah ke bradikardia, fibrilasi/takikardia ventrikel, gelombang T tinggi, gelombang P datar, kompleks QRS tumpul, blok jantung mengarah asistol)
    • Monitor tanda dan gejala hipontremia (mis. Disorientasi, otot berkedut, sakit kepala, membrane mukosa kering, hipotensi postural, kejang, letargi, penurunan kesadaran)
    • Monitor tanda dan gejala hypernatremia (mis. Haus, demam, mual, muntah, gelisah, peka rangsang, membrane mukosa kering, takikardia, hipotensi, letargi, konfusi, kejang)
    • Monitor tanda dan gejala hipokalsemia (mis. Peka rangsang, tanda IChvostekI [spasme otot wajah], tanda Trousseau [spasme karpal], kram otot, interval QT memanjang)
    • Monitor tanda dan gejala hiperkalsemia (mis. Nyeri tulang, haus, anoreksia, letargi, kelemahan otot, segmen QT memendek, gelombang T lebar, kompleks QRS lebar, interval PR memanjang)
    • Monitor tanda dan gejala hipomagnesemia (mis. Depresi pernapasan, apatis, tanda Chvostek, tanda Trousseau, konfusi, disritmia)
    • Monitor tanda dan gejala hipomagnesia (mis. Kelemahan otot, hiporefleks, bradikardia, depresi SSP, letargi, koma, depresi)
  2. Terapeutik
    • Atur interval waktu pemantauan sesuai dengan kondisi pasien
    • Dokumentasikan hasil pemantauan
  3. Edukasi
    • Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
    • Informasikan hasil pemantauan, jika perlu

B. MANAJEMEN CAIRAN (I.03098)

  1. Observasi

a.      Monitor status hidrasi ( mis, frek nadi, kekuatan nadi, akral, pengisian kapiler, kelembapan mukosa, turgor kulit, tekanan darah)

b.     Monitor berat badan harian

c.      Monitor hasil pemeriksaan laboratorium (mis. Hematokrit, Na, K, Cl, berat jenis urin , BUN)

d.     Monitor status hemodinamik ( Mis. MAP, CVP, PCWP jika tersedia)

  1. Terapeutik

a.      Catat intake output dan hitung balans cairan dalam 24 jam

b.     Berikan  asupan cairan sesuai kebutuhan

c.      Berikan cairan intravena bila perlu

  1. Kolaborasi
    • Kolaborasi pemberian diuretik,  jika perlu

DAFTAR PUSTAKA

  • Tim Pokja SDKI DPP PPNI, (2016), Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI),  Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia
  • Tim Pokja SLKI DPP PPNI, (2018), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI),  Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia
  • Tim Pokja SIKI DPP PPNI, (2018), Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI),  Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar